Siapapun kita, apapun latar belakang kita, akan melewati fase menikah
kemudian punya anak jika ditakdirkan demikian. Siap tidak siap, masa
itu akan datang.
Duh! Jadi emak? Gimana ya rasanya??
Sebut
saja Arin. Dia adalah wanita muda yang aktif, pintar, gaul, dan
berwawasan luas. Dia sukses dalam karirnya, memiliki banyak teman, dan
eksis di media sosial.
Arin yakin dengan kemampuannya mengasuh
anak, karena menurutnya, Ia akan dapat membesarkan anaknya dengan baik
seperti orangtuanya mengasuh dirinya. Dan dia berpikir, everything’s
gonna be ok.
Namun, setelah memiliki anak, Arin baru menyadari
ternyata mengasuh anak tidak semudah yang dibayangkan. Dia tidak
terbiasa dengan tugas dan tanggungjawab baru sebagai ibu.
Setiap
ia mengalami kesulitan dan menghadapi tantangan yang muncul, Arin aktif
mencari ilmu dari berbagai informasi dan bertanya kepada teman-temannya
namun banyaknya informasi justru membuatnya semakin bingung. Arin
berharap waktu dapat diulang kembali untuk mempersiapkan segalanya
sebelum memiliki anak.
***
Ibu itu.. master chef, perawat,
terapis, dokter, konselor, ahli negosiasi, manajer, sahabat sejati,
event organizer, psikolog, guru, role model. BANYAK!!!
Seandainya
Ibu dibuka lowongan pekerjaannya, keterampilan atau gelar apa saja yang
harus dipenuhi ya? Dan ajaibnya, ibu-ibu mengerjakan pekerjaan itu
BERSAMAAN. Super-multitasking-woman.
Ternyata, jadi ibu itu, rempong!!
***
Tenang, karena menjadi ibu adalah fitrah, sudah pasti Allah
mempersenjatai kita agar berperan menjadi ibu terkece bagi anak-anak
kita.
Oh ya?
Yup, ternyata Allah memang mendesain seorang
perempuan untuk berperan menjadi super-multitasking-woman dengan
dikaruniakanNya otak jaring (web-brain) padanya. Hal ini dikarenakan
Allah menciptakan perangkat berupa otak dan hormon yang memungkinkan
seorang perempuan mampu melakukan beberapa hal bersamaan.
Pada
saat usia kehamilan 3-4 bulan, saat ruh ditiupkan, saat itu pula neural
tube bagian depan berkembang pesat dari bagian belakang, menggulung dan
akhirnya terbentuk dengan sempurna dua belahan otak. Sinyal listrik pada
bayi perempuan banyak berlintasan antar dua belahan otak, sedangkan
pada bayi laki-laki sinyal listrik tidak berlintasan antar dua belahan
otak. Sehingga, jembatan (Corpus callosum) antar kedua belahan otak
perempuan lebih tebal daripada otak laki-laki.
Corpus callosum
adalah bagian dari otak manusia yang menghubungkan belahan otak kiri
dengan otak kanan. Sekaligus menghubungkan otak emosional (limbic
system) dengan otak rasional (neocortex).
Apa akibatnya?
Otak perempuan lebih mudah mengakses kedua belah otaknya sekaligus
limbik dan korteksnya. Hal ini yang memberi kemampuan perempuan untuk
multitasking. Memasak sambil mencuci pakaian sekaligus angkat telpon dan
menyusui.
Sedangkan, laki-laki cenderung pemikir tunggal. Jika
sedang nonton pertandingan sepakbola di TV. seperti tidak mendengar
apapun ketika diajak mengobrol oleh istrinya.
Kemudian tentang
hormonnya. Pada tubuh perempuan, terdapat serotonin yang berfungsi
sebagai pereda stres dan sangat bermanfaat dikala anak-anak balita
'meraung' bak sirine ambulan! Juga terdapat oksitosin yang berfungsi
agar ketika ibu sedang kesal atas tingkah polah anak, bisa cepat iba
karena sayang.
Dalam tubuhnya, perempuan memang diinstal chips multitasking dan self-healing supaya perannya sebagai ibu jadi optimal.
Maka, perempuan dengan otak dan hormonnya yang sedemikian itu, sudah
dipersiapkan oleh Allah untuk menjadi ibu terbaik, yang sabar,
penyayang, dan perhatian bagi anak-anaknya meski kesibukan membuatnya
merasa tersita waktu dan tenaganya bagi diri sendiri. Ibu yang sikapnya
tidak mudah dikendalikan emosi, yang selalu memiliki ruang pikir dalam
kondisi se-hectic apapun.
Begitupun buat kita calon ibu kece masa
depan, tidak perlu terlalu takut akan hecticnya hidup setelah menjadi
ibu. Persiapkan saja diri kita, yakin pada Allah bahwa Ia pasti
membekali kita kemampuan ketika ia menyerahkan amanah kepada kita.
Via Aprilia Jayanegara
Tidak ada komentar:
Posting Komentar