Kamis, 21 Mei 2015

Inilah Anak Yang Durhaka & Tidak Tahu Balas Budi

Di sana, di pinggir laut, ada seorang wanita du­duk di atas gelarannya dan di dekatnya ada secangkir teh. Ia memandang bola matahari sedang tenggelam dalam ufuk agar berlalu satu hari dari kehidupannya yang mencapai usia 70-an tahun. Kemudian ia memandang lautan yang airnya disinari cahaya ufuk lak­sana emas, dan keindahannya yang menakjubkan mempesonanya. Tapi ia tidak lupa betapa dalamnya kesedihan dan kisah yang tersimpan dalam hatinya. Kemudian, ia kembali ke tempatnya, lalu mengingat hakikat kehidupan dan bahwa dirinya menyerupai lautan di banyak aspeknya…

Berdekatan dengannya duduk satu keluarga yang datang ke laut untuk re­fresing dari rutunitas, dan untuk melupakan sejenak mesin kehidupan sehari-hari, kepenatannya, dan apa saja yang menyebabkan stress. Sebagian anggota ke­luarga itu melihat kesendirian wanita tua itu, dan ia ingin terlibat dan bertanya kepadanya. Namun semua anggota keluarganya melarangnya dari hal itu, sehing­ga ia menahan diri. Para anggota keluarga itu menghabiskan waktu mereka, memperbincangkan banyak hal, dan makan makanan mereka hingga lewat pukul 01.00 setelah pertengahan malam. Sementara wanita tua itu masih duduk seorang diri, minum teh, dan me­mandang ke laut. Salah seorang dari mereka tidak mampu menahan diri untuk bertanya, “Ibu, apakah engkau ingin aku mengantarkanmu ke suatu tempat? Semoga tidak ada keburukan, karena kami tidak meli­hat seorang pun di sisimu.”

Ia menjawab, “Anakku telah mengantarku ke sini, dan ia mengatakan, ‘Kami tidak akan pergi lama, dan aku akan datang kepadamu sebentar lagi.”

Orang itu mengatakan kepadanya, “Tapi waktu sudah larut dan sekarang sudah pukul 01.30 setelah lewat separuh malam.” Ia mengatakan, “Aku tidak ta­hu, tapi ia meninggalkan kertas di tanganku.” Orang itu pun mengambil kertas itu dan membacanya, ter­nyata berisikan, “Bagi siapa saja yang membaca ker­tas ini, bawalah ibu ini ke panti jompo.”

Semuanya terkejut ketika mereka mengetahui ke­sengsaraan wanita lemah ini yang dulu menyusui, be­gadang, dan mengandung anak durhaka itu. Ke­mudian anak durhaka ini, saat dalam kehidupannya yang kritis, mencampakkannya di laut, sebagaimana lautan melemparkan buihnya ke pantai.

Hendaklah setiap orang yang membaca tulisan ini mengetahui bahwa klimaksnya nanti akan seperti itu juga, jika ia tidak bersungguh-sungguh merawat putra-putrinya dengan pendidikan yang baik, yang termasuk diantaranya berbakti kepadanya di akhir kehidupannya, dan mendoakan untuknya setelah kematian.” [Qashash Min al-Waqi’ hal.74-75)

Via Balasan Sesuai Dengan Perbuatan, Ibrahim bin Abdullah al-Hazimi, Penerbit Tazkia

Tidak ada komentar:

Posting Komentar